Sosok Agus Janardana, Menyulap Sampah Menjadi Mahakarya

Sampah plastik mungkin hal yang kecil. Jika diremehkan akan jadi marabahaya. Tapi jika dihargai justru akan menjadi mahakarya. Begitulah sosok Made Agus Janardana yang berupaya mengubah sampah plastik menjadi sesuatu yang bernilai. Ia menyulap sampah plastik di sekitarnya dipadukan dengan teknologi untuk menjadi Lukisan Wajah Plastik. Lukisan ini diciptakannya pada tahun 2017.
Pria berusia 30 tahun asal Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng ini, menemukan ide membuat Lukisan Wajah Plastik berawal saat menemukan warna-warna yang kuat pada plastik kemasan. Bebarapa motif dari sampah plastik nampak memberikan nilai tersendiri. Ada kata-kata original dari sampah plastik kemasan yang bisa dijadikan pesan di lukisan.
Karena terbiasa bermain warna dalam desain grafis, ia terpikir untuk untuk memanfaatkan plastik kemasan sekali pakai untuk dijadikan lukisan. Namun ternyata mentrasfer sampah plastik bukanlah hal mudah. Perlu ketelitian. Agus musti belajar sabar dalam memadu-madankan warna-warna dari sampah plastik kemasan ini.
Menurut Agus, untuk sisi desainnya seseorang perlu memahami teknik. Seperti memiliki disiplin ilmu warna gelap terang, filosofi warna, serta teknik desain lainnya. Selain itu, saat penempelan juga diperlukan kesabaran tingkat tinggi. Kalau gak sabaran, belum apa-apa sketsanya bisa pecah duluan.
“Pembuatan karya ini sangat detail, sampai bagian terkecil pun kita potong detail. Untuk sketsa wajah perorangan, paling lama butuh waktu 5 jam. Tapi kalau kerjanya keroyokan, lebih cepat selesai,” tutur Agus yang sempat ku wawancarai hampir setahun lalu.
Untuk bahan utamanya yakni plastik, Agus tidak mencari jauh-jauh sampai ke bank sampah. Dia hanya mengumpulkan sampah dari rumah tangga yang dia hasilkan setiap harinya. Termasuk bekerjasama dengan warung-warung di sekitar tempat tinggalnya. Sembari mengumpulkan plastik, ia juga sekaligus mengedukasi orang-orang di lingkungannya agar tidak membakar apalagi membuang sampah secara sembarangan.
Menurutnya, yang banyak beredar adalah sampah plastik kemasan sekali pakai. Sebagai pegiat lingkungan, ia kadang-kadang prihatin karena banyak bank sampah yang tidak mau menerima sampah kemasan. Mereka hanya mau menerima sampah seperti botol dan beberapa jenis sampah lainnya.
Dari sekian karyanya, ada satu karya yang dijadikan masterpiece berjudul ‘Potret Bali’. Karya ini dilukiskan sebagai seorang penari Legong yang cantik. Namun cantik yang tergambar justru dengan raut wajah menangis dan marah. Sang penari tidak bisa berkata apa melihat kondisi Bali saat ini. Lewat potongan-potongan sampah plastik kemasan, Agus Janardana merangkainya sedemikian rupa agar lukisan mampu menuturkan pesan yang dimaksud.
Karya masterpiecenya itu pun menang kontes sebagai ‘Best Content Message’ di Plactic Waste Artwork Installastion Competition yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia Bali di ITDC Nusa Dua. Lukisan Wajah Plastik ini juga sudah mulai dilirik pejabat, akademisi, dan profesi lainnya di Bali dan luar Bali. Karyanya juga sudah didaftarkan (hak ciptanya) ke Kemenkumham RI pada Januari 2019.
Dalam menjual karyanya, Agus mematok Rp 500 ribu per wajah dengan ukuran gambar 12R (harga mungkin sudah berubah). “Saya juga sudah menjual ke tiga negara antara lain Islandia, Prancis, dan Amsterdam. Bahkan Mr Vincent dari Amsterdam membeli karya saya seharga 600 Euro atau setara Rp 10 juta,” ungkap Agus.
Di balik mahakarya Lukisan Wajah Plastik, Agus menyadari masih banyak yang mengkritisi karyanya. Apalagi ini tergolong gagasan baru. Beberapa orang, termasuk seniman senior mengkritik mengapa gambar presiden ataupun gambar Pancasila menggunakan sampah plastik. Bagi Agus, sah-sah saja orang mengkritisi. Tergantung sudut pandang penilaiannya. Jika memandang karyanya adalah sebuah karya seni, justru makna Pancasila lebih jelas terlihat dengan simbol warna-warna plastik ini.
Meski ada banyak kritikan, namun Agus ingin terus memperkenalkan hasil karyanya sebagai salah satu upaya mengedukasi masyarakat akan pentingnya mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai. Menjaga kebersihan lingkungan bukan dengan cara menimbun atau membakar sampah. Jadi, ayo kreatif guys!
Wawancara dilakukan saat Pameran Kebersihan Kota Denpasar bertema ‘Gara-gara Sampah’ di depan Museum Bali, Denpasar, pada 30 Agustus 2019.
